BANTUL - Konsistensi dalam merawat keimanan kembali ditunjukkan oleh warga Sutopadan dan sekitarnya. Di tengah udara pagi yang dingin, shaf shalat Subuh di Masjid As-Salam Sutopadan tetap dipadati oleh jamaah yang antusias menghadiri Kajian Ahad Pagi. Majelis ilmu kali ini dibersamai oleh Ustadz Suharto, yang menyampaikan materi dengan gaya segar, penuh kelakar bermakna, namun sarat akan tamparan rohani.
Setelah menyampaikan rasa syukur atas nikmat istiqomah yang diberikan Allah SWT kepada seluruh jamaah Subuh, beliau langsung mengajak hadirin untuk merenungkan kembali tujuan hidup manusia melalui sabda Rasulullah SAW: "Ad-dunya darun man la dara lahu" (Dunia ini adalah rumah bagi orang yang tidak memiliki rumah).
Hakikat Dunia: Panggung 'Gentenan' yang Sementara
Ustadz Suharto menjelaskan secara gamblang bahwa dunia ini pada dasarnya bukanlah wilayah kepemilikan permanen, melainkan sekadar tempat persinggahan yang sifatnya bergiliran atau dalam istilah Jawa disebut gentenan.
"Coba kita tengok sekeliling kita. Zaman dahulu, yang bertempat tinggal di kampung Sutopadan ini adalah simbah-simbah kita. Begitu mereka wafat, posisi itu berganti kepada kita hari ini. Besok ketika giliran kita yang tiada, anak cucu kita yang akan mengambil alih. Begitu pula dengan sawah dan rumah. Semua aset itu hanya gentenan, bahkan kalau anak cucu kita besok pintar menjualnya, aset itu akan cepat berpindah tangan menjadi milik orang lain. Kita tidak perlu terlalu ngoyo (memaksakan diri) mengejar dunia, karena alamat asli manusia bukan di sini, melainkan di surga, tempat awal kakek moyang kita, Nabi Adam AS, tinggal."
Aturan Pulang: Mendaftar Syahadat dan 'Absen' Shalat
Untuk bisa kembali pulang ke alamat asal di surga, Ustadz Suharto mengingatkan bahwa setiap manusia harus mengikuti regulasi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Proses ini diibaratkan seperti sistem administrasi sekolah:
-
Proses Mendaftar (Syahadat): Langkah awal untuk diakui sebagai calon penghuni surga adalah dengan mendaftarkan diri melalui ikrar dua kalimat syahadat.
-
Kewajiban Mengisi Absensi (Shalat): Mendaftar saja tidaklah cukup. Seperti anak sekolah yang sudah terdaftar namun tidak pernah masuk kelas dan tidak pernah ada di dalam daftar hadir, nama murid tersebut lama-kelamaan pasti akan dicoret oleh pihak sekolah. Shalat lima waktu adalah lembar absensi harian umat Islam. Orang yang mengaku muslim namun sengaja meninggalkan shalat, perlahan statusnya akan tercoret dan derajatnya bisa disamakan dengan orang kafir.
Beliau menegaskan bahwa kehadiran para jamaah di Masjid As-Salam pada subuh hari ini adalah bagian dari upaya mengisi "absensi" spiritual tersebut agar nama mereka tetap aman di dalam daftar calon penghuni surga.
Analogi Unik Shalat Berjamaah: Rombongan Bus ke Jakarta
Mendirikan shalat Subuh diakui memiliki tantangan yang berat, terutama di saat musim hujan atau cuaca dingin. Namun, ganjarannya sangat luar biasa, di mana dua rakaat sunah Fajar saja dinilai lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Ustadz Suharto tidak menampik fakta bahwa meraih kekhusyukan dalam shalat adalah perkara yang sangat sulit. Sering kali saat takbiratul ihram dimulai, pikiran jamaah justru melayang mengingat kunci rumah, jemuran, hingga urusan pekerjaan. Sebagai solusi atas ketidaksempurnaan khusyuk tersebut, beliau memberikan sebuah analogi yang sangat menarik tentang pentingnya shalat berjamaah.
"Shalat berjamaah itu ibarat kita naik rombongan bus menuju Jakarta. Di dalam bus tersebut, sang sopir—yang kita ibaratkan sebagai Imam shalat—fokus dan khusyuk menyetir di depan memantau jalan. Sementara para penumpang di belakang—yaitu para makmum—ada yang mengantuk, bahkan tertidur pulas. Selama para penumpang tidak melompat keluar dan tetap berada di dalam bus, maka saat bus itu sampai di Jakarta, seluruh penumpang di belakang otomatis akan ikut sampai dengan selamat bersama sang sopir. Begitulah indahnya shalat berjamaah; kekurangan khusyuk kita akan ditutupi oleh kekhusyukan imam dan jamaah lainnya."
Kiat Praktis Menjemput Husnul Khotimah
Pada sesi akhir kajian, Ustadz Suharto membagikan resep utama agar seorang hamba bisa mengakhiri perjalanan dunianya dalam kondisi terbaik (husnul khotimah). Kiat-kiat tersebut meliputi:
-
Konsisten Menjaga Shalat Berjamaah: Terutama shalat Asar dan Subuh berjamaah, yang dalam janji syariat menjadi jaminan mutlak untuk masuk ke dalam surga.
-
Menerapkan Sikap Rida Billah: Menerima setiap jengkal ketetapan takdir Allah SWT dengan hati yang ikhlas dan penuh syukur, baik dalam kondisi sehat, sakit, lapang kaya, maupun saat diperuji dengan kesempitan harta.
-
Sabar Menghadapi Pasangan Hidup: Sambil memicu tawa jamaah, beliau menjelaskan bahwa kesabaran menghadapi karakter pasangan yang keras atau cerewet adalah salah satu fast track (jalur cepat) menuju surga. Beliau mencontohkan kisah ulama sufi terdahulu yang diangkat menjadi wali Allah karena tingkat kesabarannya yang luar biasa menghadapi istrinya, serta kemuliaan Siti Asiyah yang tetap shalihah dan sabar meskipun bersuamikan manusia paling dzalim di dunia, yakni Fir'aun.
Ustadz Suharto menutup majelis dengan pesan agar jamaah senantiasa mendawamkan zikir kalimat tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, saat ajal menjemput kelak, lisan kita dimudahkan untuk mengucapkan kalimat "Laa ilaaha illallah" sebagai tiket utama menuju kebahagiaan abadi.
Usai doa bersama dilantunkan, agenda ditutup dengan ramah tamah hangat khas warga Sutopadan di halaman masjid.
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.
Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda
Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.
Bank Syariah Indonesia (451)
7325 1906 68
Atas Nama Rekening
ZIS ASSALAM SUTOPADAN
Transaksi Aman & Terverifikasi