BANTUL - Ruang utama Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti agenda rutin Kajian Ahad Pagi. Berlangsung hangat seusai shalat Subuh berjamaah, pengajian kali ini menghadirkan tausiyah dari Ustadz Abu Nasywa yang mengangkat tema krusial mengenai pentingnya menyikapi kenikmatan, meluruskan pemahaman hakikat rezeki dan ajal, serta keteguhan dalam menghadapi ujian kehidupan.
Ustadz Abu Nasywa mengawali ceramahnya dengan mengajak jamaah untuk senantiasa memperbanyak syukur atas nikmat Allah SWT, khususnya nikmat sehat dan nikmat sempat. Beliau menegaskan bahwa dua kenikmatan ini sering kali dilalaikan oleh manusia, padahal hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menunjang ibadah dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
"Tujuan utama manusia diciptakan di dunia ini tiada lain adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Az-Zariyat ayat 56. Jangan sampai seluruh orientasi hidup kita hanya terjebak dalam kacamata kalkulasi materi untung-rugi duniawi hingga melupakan tugas utama kita sebagai hamba-Nya."
Meluruskan Pemahaman Hakikat Rezeki dan Ajal
Dalam uraian yang mendalam, Ustadz Abu Nasywa mengajak jamaah untuk membedah konsep rezeki dan batas usia (ajal) agar batin manusia tidak senantiasa diliputi rasa cemas berlebihan. Beliau menegaskan bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin oleh Allah SWT. Usaha atau pekerjaan manusia bukanlah penentu mutlak hadirnya rezeki, melainkan sebatas al-hal—perantara atau pintu-pintu yang dibuka untuk menjemput karunia yang telah ditetapkan.
Begitu pula dengan masalah kematian. Beliau meluruskan salah kaprah yang kerap terjadi di masyarakat bahwa musibah kecelakaan, penyakit berat, atau peristiwa fisik lainnya adalah penyebab utama kematian. Berdasarkan petunjuk Al-Qur'an (di antaranya Surah Al-A'raf ayat 34), penyebab sejati kematian adalah telah habisnya batas waktu hidup atau ajal yang telah ditentukan Allah SWT.
-
Rezeki Minallah: Setiap jatah rezeki manusia telah diatur dan dijamin; ikhtiar adalah kewajiban hamba, tetapi keyakinan tetap bertumpu sepenuhnya pada kemurahan Allah.
-
Kepastian Ajal: Kematian tidak dapat dimajukan atau dimundurkan walau sesaat; peristiwa sakit atau kecelakaan hanyalah sarana, sementara tergenapinya ajal adalah penentu utamanya.
-
Pentingnya Ikhtiar Syar'i: Meski rezeki dan ajal berada di ranah takdir Allah, seorang muslim tetap diwajibkan berikhtiar—seperti bekerja dengan jujur dan berobat ketika sakit—sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Menghadapi Ujian Kehidupan dengan Kesabaran dan Shalat
Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155 dan Surah Al-Mulk ayat 2, Ustadz Abu Nasywa mengingatkan bahwa dunia pada hakikatnya adalah tempat ujian (darul bala'). Ujian berupa rasa takut, kekurangan harta, maupun kehilangan jiwa pasti akan menghampiri setiap manusia untuk menguji siapa yang paling baik amalnya.
Oleh karena itu, hal yang paling krusial bukanlah meratapi atau mengkhawatirkan ujian itu sendiri, melainkan bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapinya. Kunci utama untuk meraih kelulusan dalam ujian kehidupan adalah dengan menjadikan kesabaran dan shalat sebagai penolong (wasta'inu bis-sabri was-salah).
Kajian Ahad Pagi yang penuh penataan batin ini diakhiri dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberikan ketetapan iman, kelapangan dada dalam menghadapi ujian, serta diwafatkan kelak dalam keadaan husnul khatimah. Usai pembacaan doa kafaratul majlis, keakraban antar-jamaah terus terjalin hangat di pelataran Masjid As-Salam Sutopadan.
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.
Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda
Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.
Bank Syariah Indonesia (451)
7325 1906 68
Atas Nama Rekening
ZIS ASSALAM SUTOPADAN
Transaksi Aman & Terverifikasi